Minggu, 08 November 2015

Japan Trip: An Intro

Oktober adalah bulan yang saya pilih untuk menyambangi Jepang untuk kali pertama. Alasannya sederhana, suhu Jepang sudah relatif bersabahat, tanpa badai yang acapkali melanda saat terjadi pergantian musim, ditambah harapan warna-warni musim gugur akan mulai bermunculan. Sayangnya perhitungan saya sedikit meleset, musim gugur baru akan benar-benar tiba di akhir Oktober dan awal November, sedangkan jadwal perjalanan saya adalah awal Oktober. Oh well, seperti kalimat andalan saya, “you can’t have everything you want,” paling tidak saya masih mendapat suhu yang relatif mild untuk melakukan perjalanan *menghibur hati* 

Untuk perjalanan ini saya memulai dari kota terbesar kedua di Jepang, Osaka, dan akan mengakhiri perjalanan di Tokyo. Open-jaw ticket, kebanyakan traveler menyebutnya. Dengan demikian saya tidak perlu menghabiskan waktu kembali ke Osaka untuk menempuh perjalanan pulang ke Jakarta nanti. Hemat waktu, uang, dan tenaga tentunya.  

Kebanyakan persiapan perjalanan di Jepang sudah saya siapkan dari Indonesia. Membuat itinerary dan estimasi biaya harian, juga mem-booking penginapan, tiket bus, dan tiket wisata secara online maupun lewat agen travel. Dengan persiapan seperti ini setibanya saya di Jepang nanti saya bisa langsung jalan mengikuti itinerary yang sudah dibuat, tidak perlu repot buka-buka buku panduan perjalanan lagi. Sedikit drama yang terjadi sebelum keberangkatan adalah kurs Dollar Amerika yang terus meroket, yang tentu saja berpengaruh juga pada nilai tukar Yen. Dengan kurs 1 Yen = 123 Rupiah, estimasi biaya yang saya buat jadi membengkak melebihi budget awal *nangis di pojokan*

Pengajuan visa saya lakukan satu bulan sebelum keberangkatan, yang mengejutkan adalah panjangnya antrian apply visa di Konsulat Jenderal Jepang di Jakarta. Animo masyarakat untuk traveling ke Jepang sepertinya sedang meningkat pesat. Untuk pengajuan visa Jepang, harap perhatikan domisili wilayah masing-masing karena pengajuan visa Jepang dibagi ke dalam beberapa wilayah yuridiksi berbeda. Misal, teman saya bekerja di Jakarta namun KTP-nya masih beralamat di Padang, maka dia harus mengurus visa di Konsulat Jenderal Jepang di Medan karena Padang masuk dalam wilayah yuridiksi Konsulat Jenderal Jepang di Medan. 

Menurut saya pribadi persyaratan visa Jepang tidak seribet visa Schengen, paling tidak saya merasa lebih PD saat pengajuan. Saya mengajukan visa kunjungan sementara untuk tujuan wisata dengan biaya sendiri. Dokumen yang diperlukan adalah:
1. Paspor
2. Formulir permohonan visa [download (PDF)] dan Pasfoto terbaru (ukuran 4,5 X 4,5 cm, diambil 6 bulan terakhir dan tanpa latar, bukan hasil editing, dan jelas/tidak buram)
3. Foto kopi KTP atau Surat Keterangan Domisili
4. Fotokopi Kartu Mahasiswa atau Surat Keterangan Belajar (hanya bila masih mahasiswa). Jika sudah bekerja dapat diganti dengan surat keterangan kerja.
5. Bukti pemesanan tiket (dokumen yang dapat membuktikan tanggal masuk-keluar Jepang)
6. Jadwal Perjalanan [download (DOC)] (rinci semua kegiatan sejak masuk hingga keluar Jepang)
7. Fotokopi dokumen yang bisa menunjukkan hubungan dengan pemohon, seperti kartu keluarga, akta lahir, dan lain sebagainya jika pemohon lebih dari satu
8. Dokumen yang berkenaan dengan biaya perjalanan. Bila pihak Pemohon yang bertanggung jawab atas biaya diperlukan fotokopi bukti keuangan, seperti rekening Koran atau buku tabungan tiga bulan terakhir (bila penanggung jawab biaya bukan pemohon seperti ayah/ibu, maka harus melampirkan dokumen yang dapat membuktikan hubungan dengan penanggung jawab biaya). Saran saya untuk bukti keuangan ini, paling tidak selama tiga bulan terakhir cash flow tabungan terbilang normal, tidak ada dana besar yang tiba-tiba masuk karena akan membuat curiga. Untuk nominal tabungan minimal yang mengendap, saya selalu melakukan perhitungan seperti ini: (Biaya hidup harian di Jepang X Lama tinggal di Jepang + Harga tiket pesawat) + 10% dari jumlah total perhitungan awal. 

Dokumen diatas harus disusun sesuai urutan dari nomor 1 – 8 sebelum diserahkan di loket. Biaya visa sebesar Rp 330.000 dibayar saat mengambil visa, visa dapat diambil dalam tiga hari kerja. Saat menyerahkan dokumen, petugas sama sekali tidak mewawancarai ataupun memeriksa dokumen saya. Dia hanya mengecek kelengkapan dokumen, memberi stempel lalu memberi saya tanda terima. Beberapan jam setelahnya saya mendapat telepon dari Konsulat Jenderal Jepang yang mengatakan dokumen saya tidak lengkap dan diharuskan kembali. Saya kembali ke Konsulat Jenderal Jepang sambil mengingat-ingat, rasanya semua dokumen sudah saya isi dan lengkapi. Di Konsulat Jenderal Jepang, ternyata saya belum memberi tanda contreng pada beberapa pernyataan di formulir pengajuan visa. Hhhh, hal kecil yang membuat saya jadi bolak-balik dan membuang waktu. Memang, saat pengajuan visa semua dokumen harus dicek dan diteliti kembali untuk menghindari buang-buang waktu dan tenaga seperti ini. 

Saya menggunakan Air Asia untuk penerbangan menuju Jepang dengan transit selama tiga jam di Kuala Lumpur. Harus diakui, saya cukup terkejut saat sampai di bandara KLIA 2. Sebuah bandara yang besar dan megah! Sunggup saya tak habis pikir bagaimana Tony Fernandes begitu serius menggarap Air Asia dan membangung KLIA 2 sebagai markas utamanya. Tiga jam di KLIA 2 saya habiskan untuk bekeliling singkat bandara dan menemukan spot-spot menyenangkan untuk menghabiskan waktu: movie room, kid zone, bahkan ada beberapa spot yang dikhususkan untuk tidur.

 Movie room

 Jadwal keberangkatan yang cukup padat

 Bisa santai-santai, tiduran, atau baby sitting disini




Penerbangan Kuala Lumpur – Kansai Osaka memakan waktu enam jam. Mengingat ini adalah penerbangan berbudget rendah, jangan harap mendapat fasilitas bantal, selimut, dan in-flight entertainment. Semua memang tersedia, namun dengan biaya tambahan. Jadi, siapkan bantal leher, selimut tipis/ sarung bali/ jaket untuk menghalau dingin, dan penuhi perangkat elektronik dengan film atau buku kesayangan. Make yourself as comfortable as you can. Walau demikian semua persiapan itu bagi saya akhirnya sia-sia. Tidak ada yang mampu membunuh rasa jenuh dan bosan selama berada di dalam pesawat. 

Enam jam mati gaya di pesawat sungguh bukan pengalaman menyenangkan. Saya buru-buru keluar pesawat dan menuju imigrasi setibanya di Kansai Airport. Proses imigrasi berjalan cepat dan efisien. Tidak ada pertanyaan aneh-aneh dan paspor saya mendapat cap dengan mulus. Melihat ke sekeliling, dengan orang-orang asing, bahasa asing, dan bentuk tulisan yang tidak familiar, am I already in Japan? Rasanya masih sulit untuk percaya bahwa saya sudah berada di Jepang. Sedikit gemetar saya membuka itinerary untuk mencari tempat salat, ada tiga prayer room di Kansai Airport: Gate 16 dan Gate 26 yang berada di area keberangkatan internasional, yang terakhir berada di lantai 3 persis di belakang UNIQLO. Ketiga prayer room ini berada di terminal 1. Masih jet lag dengan kondisi bandara, saya memutuskan ke prayer room yang berada di lantai tiga dengan asumsi akan lebih mudah ditemukan. Saat menuju lantai tiga, saya melihat di lantai dua bandara sudah banyak orang yang menempati bangku bandara untuk tempat bermalam. 

 Arah prayer room

 Bagian dalam prayer room. Hanya berisi sajadah sebagai perangkat salat

Tempat wudhu

Menjelang pukul 11 malam mayoritas semua toko di Kansai Airport sudah tutup. Suasana sepi dan sedikit gelap saat saya mencari prayer room. Letak prayer room sedikit terpencil, walau demikian ukurannya cukup luas dan nyaman. Selesai salat saya kembali ke lantai dua untuk mencari bangku kosong sebagai tempat bermalam. Sialnya, seluruh bangku di lantai dua sudah penuh terisi. Bermalam di Kansai Airport memang menjadi pilihan favorit kebanyakan orang. Saran saya jika berencana bermalam di Kansai Airport, secepat mungkin selesaikan urusan imigrasi dan bagasi, setelah itu segera cari tempat duduk yang nyaman untuk bermalam. Jika ingin ke toilet atau salat, titipkan tempat duduk kepada ‘tetangga sebelah,’ jangan lupa simpan ransel yang kira-kira aman untuk ditinggal di atas kursi agar kursi tidak terlihat kosong. 

Tidak memiliki pilihan lain akhirnya saya kembali ke prayer room untuk bermalam disana. Untungnya prayer room wanita dan pria dipisah, jadi masih nyaman untuk merebahkan diri di atas karpet. Beberapa orang terlihat sudah mengambil posisi untuk tidur. Dengan bermodalkan sajadah sebagai alas tambahan dan mukena sebagai lapisan tambahan penghalau dingin, saya melewatkan malam pertama di Jepang. Ah, what an intro to start my journey in Japan. 

Sabtu, 31 Oktober 2015

Blogging Because Sharing is Caring

Setelah sekian lama hiatus (dan tidak bisa memilih kalimat pembuka yang cukup baik), saya akan mengawali postingan ini dengan sebuah pertanyaan? Untuk apa kalian nge-blog? Pertanyaan yang cukup berat dan mendasar yang bahkan para blogger pun enggan untuk menjawabnya. Namun nyatanya pertanyaan ini mampu membangunkan saya dari tidur panjang. 

Saya pernah menyebut blogging sebagai passion. Hal yang bahkan tidak dibayar pun saya mau melakukannya. Hal yang saya bahagia melakukannya. Tapi ternyata kata sakti bernama passion juga dapat dipatahkan oleh dalih kesibukan. Tambahkan pula kata malas maka sehebat apapun sebuah passion, dia akan mati dengan mudahnya. 

Nyaris sepuluh bulan saya total hiatus. Bulan-bulan sebelumnya pun hanya sedikit sekali postingan yang saya muat dalam laman ini. Seorang teman pernah berkomentar, “Cha, jarang nge-blog tapi travel jalan terus.” Iya, saya memang melakukan banyak perjalanan, yang niatnya akan saya tuliskan di blog seperti biasa, namun niat itu hanya mengendap lalu akhirnya terlupakan. 

Sebut saya idealis, namun beberapa tahun belakangan ini saya ingin membuat catatan perjalanan yang lebih mengarah pada travelogue, bukan sekedar panduan perjalanan yang semata membagikan itinerary, rincian biaya, berbagai tips ‘how to…’ Saya ingin melakukan pendekatan personal, yang ternyata lebih menguras pikiran saat menuangkannya dalam bentuk tulisan sehingga saya tidak pernah puas dengan hasilnya. Saya berpikir terlalu rumit, terlalu mengejar kesempurnaan, terlalu ingin terlihat berbeda dengan travel blogger lain. Dan ujungnya malah tidak ada postingan sama sekali…

Saya pernah malu sekali saat seorang travel blogger mengirim email, “Cha, aku cari-cari tulisan kamu tentang Lombok di blog kok belum ada ya? Bisa minta link-nya? Aku mau ke Lombok akhir bulan ini.” Malu sekaligus sedih, karena saya hanya sekedar share foto-foto Lombok dalam social media dan blog tanpa ada tulisan sedikitpun. Padahal ternyata, tulisan itu akan dapat membantu blogger lainnya. Pada akhirnya, saya meminta maaf dan mengirimkan itinerary serta beberapa pengalaman serta tips di Lombok lewat email. 

Dari kejadian itu seharusnya saya sadar, beberapa travel blogger yang mengetahui record perjalanan saya dari social media ternyata masih mengandalkan saya dalam mencari informasi. Seharusnya ini melecut saya untuk kembali menulis dan berbagi, namun nyatanya saya masih tetap tenggelam dalam hiatus panjang. 

Salah satu kejadian yang cukup menampar saya terjadi di Osaka, Jepang beberapa waktu yang lalu. Salah seorang roommate saya ternyata orang Indonesia yang juga solo traveling. Kami berbicara banyak tentang rencana selama di Jepang dan dia mengatakan betapa terbantunya dia saat menyusun itinerary dari tulisan para blogger. Kata saya, “pasti kamu baca blognya mbak Vicky ya,” karena tulisan si mbak ini memang super detail dan saya pun banyak terbantu olehnya. Ucapan saya di-iya-kan oleh dia, dan dibalas oleh pertanyaan, “kenal mbak Vicky darimana?” Dari blog, tentu saja. Dengan mudah dia menyimpulkan, “oh, travel blogger juga ya? Nama blognya apa? Nanti aku mampir ya.”

Saya tertegun sebelum menjawab, “Merry go Round, tapi udah lama hiatus…”

Malu. Sedih. Merasa menyia-nyiakan sekian pengalaman yang seharusnya bisa saya bagi pada orang lain. 

Beranjak ke Kyoto, di tempat saya menginap ternyata banyak sekali orang Indonesia. Usut punya usut, tempat saya menginap mendapat banyak review positif dari travel blogger Indonesia sehingga mereka memutuskan untuk menginap disana. Beberapa nama travel blogger yang disebutkan pun tidak asing di telinga saya. 

Terakhir, dalam pesawat pulang dari Tokyo menuju Kuala Lumpur. Penumpang sebelah saya, seorang ibu-ibu yang duduk terpisah dari rombongannya senang sekali bertukar cerita selama di Jepang. “Kami jalan sendiri, nggak pakai tur jadi lebih bebas. Itinerary-nya dari hasil baca-baca blog orang-orang yang pernah ke Jepang. Kamu suka travel begini juga pasti nge-blog juga ya?” tembaknya langsung. 

Lagi-lagi saya merasa tertampar. “Iya, nge-blog, tapi udah lama nggak nulis,” aku saya.

“Wah, nulis dong, itu ngebantu orang-orang awam seperti saya loh.” Kemudian dia meminta alamat blog saya dan saya pun berjanji akan menulis lagi. 

Kembali lagi pada pertanyaan saya di atas. Beberapa orang nge-blog karena passion, idealisme, uang, imbalan, kuis, lomba, event, sebagai buzzer, materi bukunya kelak, pamer, narsis, bentuk eksistensi diri, dan beribu motif lain yang dapat dijadikan alasan. Apapun maksud mereka menulis di blog, toh pada akhirnya tulisan itu akan menemukan ‘fungsinya’ sendiri. Saat saya akan membeli make up, tak jarang saya membaca review dari pada beauty blogger yang mengerti benar produk yang mereka bahas. Ketika saya ingin mencoba kuliner di suatu daerah, saya merujuk pada tulisan para food blogger. Dan saat akan melakukan perjalanan, saya membaca pengalaman travel blogger. Tanpa disadari, tulisan yang dibuat para blogger ini sebenarnya sangat membantu manusia awam seperti saya. 

Jadi, berhentilah berpikir terlalu rumit,berhenti mengejar kesempurnaan, berhenti berusaha terlihat berbeda dengan travel blogger lain. Kembali pada motif dasar: menulis untuk berbagi, karena sharing is caring. Menulis, membagi cerita kepada dunia, apapun latar belakang yang mendasarinya. Sharing is caring. Kalian tidak akan pernah tau bagaimana tulisan yang ter-publish di laman internet akan membantu orang lain. Sharing is caring, karena itu saya kembali menulis. 

Selasa, 20 Oktober 2015

Wisata Kuliner di Langkawi

Langkawi Surga Kuliner

Tak lengkap rasanya jika jalan-jalan ke suatu daerah tapi tak merasakan kuliner lezatnya. Tak terkecuali di Langkawi , tempat surganya kuliner. Makanan khas di Pulau Langkawi sama seperti di daerah Malaysia pada umumnya  : Nasi Lemak, Nasi Kandar, Nasi Briyani., Asam Laksa dan Kerabu (semacam YamSaap di Bangkok). Namun yang membedakan adalah letak topografi Langkawi yang berupa pulau kecil, sehingga seafood sangat menjamur disini. Kalau mau makan lobster, cumi-cumi, udang, ikan, di sini surganya. Langkawi juga dekat dengan HatYai, Thailand, sehingga banyak sekali ditemui restoran Thailand. 

Pantai Cenang

Tempat makan dan tempat kongkow yang banyak ragam restoran terdapat di pantai Cenang. Di Cenang, banyak terdapat restoran Thailand, restoran seafood, bahkan restoran Perancis pun ada. Restoran-restoran yang terkenal di pantai Cenang :

1. Restoran Haji Ramli

    Restoran Haji Ramli terletak di pinggir jalan raya pantai Cenang. Resto ini menyajikan beragam menu seafood dan makanan Thailand. Ikan bakarnya endesss surendess. Tom Yum nya juga segeeeerr bingiiits. Harganya pun murah. Coba deh ikan bakarnya pakai sambelnya yang gak pedes sama sekali hihihi.
Ikan Bakar Haji Ramli juara lah

   2. Restoran Orkid Ria

Lagi-lagi seafood restoran yaaaa namanya juga pulau kecil , seafood lah juaranya disini hehehe. Tapi yang ini agak mahal. Lobster per gramnya 18RM, sekitar 60ribuan. Sekilo bakal jadi 600ribuan. Akhirnya sayapun lari terbirit-birit hanya memandang display lobster dan udang galah yang harganya sama seperti tiket pesawat saya pulang pergi Jakarta-Kuala Lumpur huhuhuhuhu :(

Restoran ini selalu full house, padahal mahal banget. Emang enak kali yaaa makanannya ... atau pake jin ???


Ini yang bikin saya minder, jadi langsung kabur hehehehe

3. Yellow Cafe

Selain seafood, di pantai Cenang juga ada cafe western yang agak-agak romantis gimanaaa gitu hihihi. Yang ini namanya Yellow Cafe di pesisir pantai Cenang. Tempatnya dekat dengan Underwater World Cenang. Makanannya yaaa makanan barat lah , seperti steak, burger, dll.

Yellow Cafe yang romantis tis tis, kayak di Jimbaran tepi pantai gitu lah

Tempatnya comfy banget, plus banyak bule buat cuci mata hehehe

Steaknya enak banget, lembut, empuk n juicy dagingnya

4. La Chocolatine Cafe

Cafe yang terletak sedikit ke kiri dari pantai Cenang, alias di jalan masuk pantai Tengah ini adalah cafe Perancis yang menjual Pattiserrie khas Perancis. Coklat panasnya luar biasa enaaaaak. Sandwich tuna nya juga segar dan besar, plus memakai roti baguette Perancis yang agak keras, tapi enak.Cafe ini mendapat rekomendasi dari TripAdvisor. Wajib dicoba lah jika anda sedang di Langkawi.




Cari tanda neon box yang seperti ini yaa, di kiri jalan kalau anda melaju dari Pantai Cenang

Suka banget sama ambience nya. Berasa di Paris hihihihi

Macam-macam patiserie nya, silaaa dipilih

Hot Chocolate nya enak banget, lembut, kental, wangiiiii



La Chocolatine tampak depan

Tuna Sandwich ala Parisian


Pasar Malam penuh makanan di Kuah Town



Berkunjunglah ke Langkawi hari Rabu atau Sabtu. Mengapa ??? Karena setiap Rabu malam dan Sabtu malam, ada pasar malam di depan hotel My Love, dekat Langkawi Saga, di Kuah Town, yang penuuuuh dengan berbagai macam makanan khas Langkawi dan muraaaah banget. Pasar malam ini ada sepanjang 1 kilometer jalan depan My Love Hotel, dan dipenuhi banyak orang lokal maupun turis asing. Harga makanan dari 0.5 RM (alias dua seringgit, kayak Mail temannya Upin dan Ipin hehehe) - 10 RM. Sedangkan minuman seperti air teh tarik, air carrot susu,air melon susu, air jagung seharga 1 RM per gelasnya.

Berikut ini foto-foto makanan yang saya coba disana.
Suasana pasar malam penuh makanan

Martabak manis, 2 seringgit



jus mangga Thailand 3 RM,  enak banget iniiiih

Yong Tau Fu ala ala




Nasi ayam madu dan nasi ayam hitam 4 RM


Kue Khas Langkawi : Tokiyoo dan  Dorayaki yang beda banget dari dorayaki Jepang. Tapi enak juga

 
Murtabak isi ayam atau isi lembu, 5 RM

Ketan Durian, 6 RM, endessss

 KUAH TOWN

Pusat kota di Langkawi ada di Kuah Town. Kuliner di Kuah Town juga beragam . Di antaranya :

1. Artisans Pizza

 Sebenarnya banyak gerai dari Artisans Pizza ini, di antaranya di Pantai Cenang dan yang saya coba ada di samping hotel Cosy Inn tempat saya menginap. Pizzanya renyah,  dengan pilihan menu yang beragam termasuk ada seafood pizza. Bahkan Artisans Pizza ini menyediakan menu India, seperti nasi Briyani dengan daging ayam atau Briyani dengan daging kambing.
Artisans Pizza yang ada dimana-mana

Caramel Latte dan seafood pizza pilihan saya

Pizza nya renyah, tidak terlalu tipis, dan mozarella nya ini yang bikin liur menetes


2. Laksa Power

Laksa Power ini terletak di jalan lapangan terbang Padang Matsirat. Jadi kalau anda dari pantai Cenang menuju pantai Kok atau menuju Sky Cab, pasti melewati jalan ini. Laksa Power berjualan di atas mobil box kecil. Laksanya enaaak, asam-asam pedas dengan kuah ikan yang kental.

Ini penampakan mobil box si Laksa Power


Asam Laksa, cendol pulut/ cendol ketan , rojak, tempat makan pinggir pantai lapangan terbang

 3. Coconut Shake 

Coconut shake adalah minuman khas Malaysia, yaitu air kelapa muda dicampur daging kelapa muda nya, lalu diberikan es krim vanilla di atasnya. Saya sukaaa sekali minuman ini, tapi yang paling enak ada di jalan dekat Airport ke arah jalan Padang Matsirat.

Silaa dipilih mau yang blend atau shake , sama enaknya

Cari aja yang kayak gini signage nya

4. Restoran Wan Thai

Salah satu restoran Thailand yang recommended di Kuah Town, adalah restoran Wan Thai di belakang Pizza Hut , jalan Pokok Asam , Kuah Town. Menunya beragam masakan Thailand, dengan rasa yang sama dengan makanan Thailand di Bangkok.



Ini penampakan dari luar, pas di belakang Pizza Hut

Ini beberapa contoh makanannya

LANGKAWI, DUTY FREE ISLAND : HEAVEN FOR SHOPPER

Pulau Langkawi adalah pulau dimana tidak ada pajak atas barang-barangnya , jadi ini DUTY FREE ISLAND. Surga banget buat para shopper. Di sini gudangnya cokelat murah, barang-barang branded, dan barang pecah belah bermerek. Disini banyak mall juga lho. Saya sendiri gak hafal. Yang saya kunjungi hanya mall di Langkawi Jetty Point, Haji Ismail Group buat beli oleh-oleh cokelat dan barang pecah belah, tas koper, dll.

Minggu, 18 Oktober 2015

Langkawi part 3 : Berenang bersama Bayi Hiu di Pulau Payar

Pulau Payar Marine Park dan platform wisata dari kejauhan
Hari ketiga di pulau Langkawi, kami habiskan di pulau Payar Marine Park. Harga paket wisata ini 120 RM untuk 6 jam berenang dan snorkeling di pulau Payar. Pagi hari sekitar pukul 9 , kami yang telah memakai stiker Pulau Payar, dijemput dari hotel dengan van putih yang berisi 8 orang. Van itu pergi ke Jetty Point tempat bersandarnya ferry yang akan mengantar kami ke Pulau Payar. Setelah diberi tiket gelang kertas yang anti air, kamipun masuk ke dalam ferry. Ferry ini besar dengan sekitar 50 kursi di dalamnya dan dilengkapi AC dan TV. Perjalanan ke Pulau Payar memakan waktu 45 menit.

Sesampainya di pulau Payar, rombongan dibagi 2. Untuk para wisatawan yang membayar 270RM, dapat  menikmati pulau Payar di atas platform. Sedangkan kami yang membayar dengan harga lebih murah 120 RM, harus ke pinggir pantai pulau Payar. Dari dermaga, kami sudah dapat melihat banyak sekali ikan warna warni. Air laut yang jernih dan pasir putih lembut menunggu kami dengan cantiknya. 
Snorkeling di Pulau Payar dengan ikan berwarna warni

Setelah mendapat penjelasan dari anak pulau Payar, bahwa kami tidak boleh berenang melebihi garis yang ditentukan, kamipun langsung menceburkan diri ke laut. BTW saya tidak bisa berenang, jadi life vest melekat erat selalu di badan hehehe. Tak disangka, di pantai yang dangkal pun banyak sekali ikan berwarna warni. Termasuk ada HIU. Kami pun kaget bukan kepalang. Takut-takut gimana gitu rasanya tapi pingin berenang bersama mereka juga. Petugas pulau tadi menjelaskan bahwa hiu ini juga bisa menggigit jari-jari kita. Tapi itu tidak menyurutkan niat kami untuk mengejar-ngejar para bayi hiu ini. Ada sekitar 5 bayi hiu yang berenang mondar-mandir mengitari para wisatawan.

Bayi-bayi hiu yang bisa dikejar-kejar hihihi
Sekitar pukul 12.30 siang , kami dipanggil untuk menepi ke pantai karena dibagikan makan siang berupa nasi kotak isi ayam goreng, nasi goreng dan french fries. Kami juga dapat sebotol air mineral dan sekaleng lemon tea dingin. Karena kelaparan berenang mengejar hiu, kami pun makan dengan lahapnya. Jam 1 siang ada Shark Feeding di pinggir pantai. Semua hiu termasuk yang agak besar, datang menghampiri petugas yang memberi makan mereka. Kami semua antusias mengelilingi para ikan hiu itu.Lalu kamipun kembali berenang mengejar-ngejar bayi hiu tadi hihihihi sampai pukul 2.30 siang.

Oh iya , di pulau Payar ini tidak ada air bersih. Jadi kalau mau bilas tetap harus memakai air laut. Parah banget ya. Tapi kami mengakali ini dengan bilas menggunakan air mineral yang kami bawa dari hotel . Orang Indonesia memang banyak akal hehehehe.Jam 3 sore, kami kembali diantar ferry ke Jetty Point.

Sabtu, 17 Oktober 2015

Sky Bridge & Sky Cab in Langkawi, The Longest Curve Bridge & one of the Steepest Cable Car in the World



Langkawi Sky Cab is one of the world's steepest cable car

Langkawi Sky Cab, a Thrilling Experience

We continued our adventure in Langkawi to Machinchang Mount to try the Sky Cab and Sky Bridge. It took 20 minutes ride from the small harbor where our boat embarked after island hopping. The sky was grey and heavy rain fell to the earth. The weather in Langkawi is unpredictable since it was bright in the morning and it suddenly rained in the afternoon. We were so afraid that the Sky Cab and Sky Bridge would be closed because of the bad weather. But Allah is the Merciful. We prayed to Allah to have sunny weather when we got there and alhamdulillah , Allah granted our wish. We did not forget to sholat before entering the gate to praise Allah and say thank you. The surau /mosque near the gate, was clean and quite big. 


The stunning view from the sky cab


Before reaching the gate, there was a bunch of souvenir shops and food stalls. We chose to wander the souvenir shops later, so we walked straight to the ticket counter. Langkawi Sky Cab is one of the world's steepest cable cab. The ticket to ride the Sky Cab was 35 RM for foreigner adult and 20 RM for foreigner kids, while for local residences only 20RM for adult and 10 RM for kids . So we tried my fortune and practised my language skills when I watched Upin and Ipin , to speak in Melayu, the native language there. I almost got the 20RM ticket when the counter staff  girl asked “Berape??” and we answered ,”Tige.” But when she asked us another question that we didn’t understand at all, we were caught in the act. She found my disguised and changed the ticket to the adult foreigner and we had to pay 35RM each huhuhuhu :(

Sky Cab was the highest cable car we’ve ever ridden. It was even higher than the Ngong Ping 360 Cable car  in Hong Kong. In fact, Langkawi Sky Cab Catch ride is one of the world's steepest Cable Car. I felt nauseous when I looked at it from a far. But I collected my guts to buy the ticket and showed off in front of my friends who seemed scared. Furthermore, I pushed them to ride the Sky Cab with me hehehehe. Before getting on the Sky Cab, we had to watch the not-so-important movie in the Sky Dome. Well, I guessed this Sky Dome was only for preventing the long queue. Then, the Sky Cab was coming, there were 2 kinds, i.e. the glass bottom (VIP) and the metal bottom. We chose to ride the metal bottom since my friends were afraid to ride the glass bottom one. (honestly, me too hehehe).



Getting on the Sky Cab with a half heart hehehe

 Under my sky cab, we could see the green lush of tropical forest and even the Seven Wells Waterfall from distance.  We could even gaze the Andaman Sea and the geological formation of islands near the Langkawi.  The Sky Cab went up higher to Machinchang Mount and I saw the marble rocks around the mount. It was stunning. Moreover, we were able to feel the breeze inside. The ride took about 10 minutes to the first stop. It was high on the top of Machinchang Mount.

Andaman Sea and geological formation of islands near Langkawi island
 At the first stop of the Sky Cab, tourists could go up to the observing deck and took pictures there. We could see the amazing view of the Andaman sea and geological formation of islands near the Langkawi island. And of course to take a selfie too, hehehehe.
Sky Cab 2nd Stop to go to the Sky Bridge

 

 

 

 

 

 

 

 

After observing the stunning view at the deck, we decided to continue our journey to the second stop where we could go up to the Sky Bridge.


Langkawi Sky Bridge, the Longest Curve Bridge in the World

After getting off from the Sky Cab, a man urged us to take our photos. We did not want to since our face were really scared of that Sky Cab riding experience. But unfortunately, we must face the steep way to go to the Sky Bridge. 

The only way to go to Sky bridge, hundreds of steep and narrow stairs
 

Reaching the second stop of the Sky Cab, we braced ourselves to climb up to the Sky Bridge. The authorities claim that Langkawi Sky Bridge is the longest curve bridge in the  world.  Well for me, it is the highest one. To go there, we needed to climb up and down hundreds of stairs since the inclinator is still being renovated. My ankle was hurt, as well as my knees. But we could not give up because we believed it would be worth it.
The Sky Bridge also has glass bottom in some parts. Cool !!!
Sky Bridge from a far

Langkawi Sky Bridge

The amazing view of Andaman Sea and the thrilling heart when I stepped up to the glass bottom part of the sky bridge were really worth my strive to come here. Yes, Langkawi Sky Bridge has the GLASS BOTTOM part on it. Do you dare to stand on it ???
Glass Bottom feature on the Sky Bridge