Kamis, 26 Desember 2013

Belitung on Budget

Tidak ada transportasi umum di Belitung. Hampir seluruh penduduk Belitung mengandalkan motor sebagai transportasi utama, sedangkan kebanyakan traveler on budget biasanya menggunakan jasa sewa motor harian untuk menekan biaya akomodasi selama berlibur di Belitung. Sebagai seseorang yang selalu mengandalkan jasa transportasi umum, ditambah ketidakmampuan mengendarai motor dan juga mobil, fakta ini cukup membuat saya kebingungan. Bagaimana saya bisa menikmati Belitung dengan segala keterbatasan yang ada?

Alternatif yang saya ambil adalah menggunakan jasa tur, hanya saja saya menghindari tur Belitung yang sudah marak di internet. Saya tidak suka diatur-atur saat berlibur, apalagi jika ketua tur memberi batas waktu ketika mengunjungi tempat wisata yang saya suka. To make it simple, saya menginginkan tur dimana saya memiliki kebebasan untuk menentukan itinerary sendiri dan tentu saja dengan biaya yang masih termasuk dalam kategori on budget.

Pertanyaannya sekarang, ada gitu tur yang seperti kriteria saya itu? Ada dong. Berbekal informasi dari seorang teman yang lebih dulu ke Belitung saya berkenalan dengan Fauzi (081367306696/081373539085), dia dapat meng-arrange rencana liburan selama di Belitung sesuai keinginan saya dengan biaya yang lebih miring dibanding jasa tur lainnya. Hebatnya lagi, dari budgeting yang ditawarkan Fauzi saya bisa meminimalisir beberapa pos pengeluaran sehingga biaya tur yang dikeluarkan dapat semakin ditekan. Misalnya untuk penginapan saya lebih memilih kamar kost yang dapat disewa secara harian (Rp 100.000 per malam, dapat sharingdengan travel partner saya) dan untuk transportasi di hari tertentu saya lebih memilih menggunakan motor daripada mobil.

Untuk perkiraan budgeting di Belitung, harga sewa motor berkisar antara Rp 30.000 sampai Rp 50.000 (belum termasuk biaya bensin), sewa mobil Rp 250.000 (tambahan biaya bensin Rp 150.000 dan driver Rp 100.000), sewa kapal antara Rp 400.000 - Rp 500.000, antar jemput bandara antara Rp 100.000 - Rp 150.000, penginapan on budget Rp 100.000 - Rp 350.000 , makan Rp 20.000 (minimum budgeting untuk sekali makan), snorkeling Rp 30.000. Biaya sewa mobil dan sewa kapal dapat semakin murah jika di-sharing dengan banyak orang.

Itineraryhari pertama saya di Belitung adalah menjelajah Belitung Timur yang jaraknya cukup jauh dari kota Tanjung Pandan. Waktu tempuh sekitar 1,5 – 2 jam, mungkin setara dengan jarak Jakarta – Bandung lewat tol Cipularang. Sepanjang jalan kebanyakan didominasi perkebunan kelapa sawit dan rawa-rawa, Fauzi bahkan menunjukkan beberapa spot yang dijadikan lokasi syuting film Laskar Pelangi dan selalu mengingatkan saya jika ingin berhenti di tempat yang saya suka untuk memotret. Selain itu dia juga mengajak saya ke beberapa tempat lokasi wisata yang belum terlalu familiar di kalangan wisatawan. Lokasi wisata di Belitung Timur berpencar-pencar dan tidak banyak petunjuk arah yang dipasang sebagai marka jalan, saya yakin jika nekat berpetualang sendiri saya pasti berakhir nyasar entah kemana.

Hari kedua sampai hari kepulangan saya ke Jakarta seorang teman Fauzi, Harry, ikut menemani kami. Harry memiliki logat Melayu yang terdengar kental dalam pengucapan kalimatnya, rasanya seolah sedang mendongeng buku Laskar Pelangi ketika dia sedang berbicara. Dan seperti kebanyakan orang Melayu yang suka mengobrol, Harry juga tak canggung bercerita tentang kisah masyarakat Belitung. Alih-alih menjadi guide, Fauzi dan Harry pada akhirnya malah menjadi teman baru yang menyenangkan di Belitung. Hingga pada akhirnya membuat liburan saya di Belitung naik peringkat menjadi kategori beyond expectation.

Pantai Serdang, Belitung Timur

Mercusuar Pulau Lengkuas

Hilarious Harry :)

Happy holiday y'all :)

Jumat, 06 Desember 2013

Pelangi di Negeri Laskar Pelangi

Saya hanya salah satu orang yang jatuh cinta dengan Belitung setelah melihat film Laskar Pelangi. Mengunjungi Belitung sudah masuk dalam bucket list saya sejak film tersebut rilis dan baru terwujudkan pertengahan November lalu dengan bermodalkan tiket promo Citilink. Jujur saja, hati saya ketar-ketir dengan pilihan waktu yang kurang menguntungkan. November sudah masuk musim penghujan dan bahkan guide saya di Belitung pun sudah mewanti-wanti kalau pulau kecil tersebut selalu hujan sejak awal November. Saya tahu dengan pasti laut tidak pernah baik saat musim penghujan, namun toh saya tetap memutuskan untuk berangkat.  

Cuaca masih tidak mendukung sampai hari keberangkatan saya. Jakarta dirundung hujan deras sejak tengah malam buta dan menyisakan gerimis ketika pesawat saya tinggal landas. Tidak sampai satu jam kemudian saya sudah mengudara di atas langit Belitung. Matahari mulai menampakkan sinarnya dan membawa hangat yang keemasan. Dari atas terlihat jelas jejak-jejak kolam kaolin sisa tambang yang telah ditinggalkan. Warna biru hijau air yang memenuhi kolam kontras dengan putihnya tanah sisa tambang yang menumpuk. Bopeng di atas bumi Belitung ini anehnya terasa memesona sekaligus memikat. Selanjutnya barisan sejajar pohon sawit memenuhi pemandangan di bawah sana. Ah Belitung, ternyata pulau ini juga telah terinvasi proyek hutan kelapa sawit yang bahkan pemilik utamanya pun bukan orang Indonesia. Lagi-lagi masyarakat Belitung menjadi buruh di tanahnya sendiri. 

Pesawat saya kemudian mulai mempersiapkan posisi landing, bagian yang paling saya benci dari sebuah penerbangan. Setelah roda ban berdecit dan perut saya seketika terasa mual, terlihat satu sapuan kuas Tuhan dari jendela pesawat yang membuat saya terpana dan ingin loncat dari pesawat sesegera mungkin. Sebuah pelangi menghiasi langit Belitung, hadiah dari Tuhan setelah menurunkan hujan deras dari malam sebelumnya. Langit masih terlihat mendung dengan awan yang berat membawa uap air, saya tahu tak lama lagi hujan akan kembali tercurah di bumi Belitung. Namun hujan juga telah menciptakan pelangi di sebuah tempat yang disebut Andrea Hirata sebagai Negeri Laskar Pelangi. 

Haruskah saya menyesali keputusan untuk menyambangi Negeri Laskar Pelangi saat musim penguhujan tiba?

Rasanya tidak. 

Pelangi ganda di langit Belitung

Rabu, 27 November 2013

Hei, A

Hei A,

It's been a while since our last chat. Since our last fight. Lalu kemudian kita saling menghilang dari kehidupan satu sama lain. And trust my word, I'm not missing you. At all. Hehe... Dan kamu pun mungkin begitu. Ah, siapa yang peduli.

Hei A,

Kamu masih ingat dengan perkenalan pertama kita? Aku akan selalu ingat karena ketika semesta memperkenalkan kita kala itu, maka garis hidupku pun perlahan berubah arah. Tentang aku yang tergila-gila pada karyamu yang independen tapi menyihir itu. Dan tentang kamu yang merasa geli melihat sikapku yang berlebihan memuja karyamu itu. Sesederhana itu perkenalan kita terjadi.

Hei A,

Film, buku, travel, dan menulis. Hanya dibutuhkan empat topik itu untuk membuat kita larut dalam obrolan berjam-jam hingga pagi menjelang. Denganmu keempat topik itu berkembang dalam batas yang luar biasa luas. Denganmu film bukan hanya sekedar gambar bergerak, buku bukan sekedar tulisan bercerita, travel bukan hanya tentang bepergian, dan menulis adalah cara mengekspresikan diri dalam bentuk yang paling jujur. Denganmu keempat hal ini menjadi suatu hal yang selalu menarik untuk ditelisik setiap sisinya. Untuk menemukan pesona tersembunyi di baliknya.

Karena tanpamu A, film, buku, travel, dan menulis kehilangan daya pikatnya.

Hei A,

Nyaman. Hanya rasa itu yang mampu kita berikan satu sama lain. Rasa yang membuat kita menjalin hubungan tanpa ikatan, tanpa rasa memiliki, tapi saling membutuhkan satu sama lain.

Pertanyaannya adalah sampai kapan?
Entahlah. Kita tidak pernah berpikir sejauh itu. Untuk apa berpikir sejauh itu? Toh tidak ada masa depan untuk kita berdua. Kita hanya menjalani apa yang ada saat ini tanpa tendensi apapun. Semudah itu. Sesimpel itu.

Hei A,

Kamu ingat dengan salah satu kalimat favoritku? Bahwa Tuhan tidak pernah dengan sengaja mempertemukan kita dengan seseorang. Selalu ada maksud yang ingin Dia sampaikan ketika Dia mempertemukan kita dengan orang-orang yang hadir dalam kehidupan ini.

Mungkin, jika saja aku tidak pernah mendapati karya independenmu itu di rak buku, jika saja kamu menganggapku sama seperti pemuja karyamu yang lain, maka cerita kita akan berbeda. Aku hanya akan menghabiskan waktu dari balik meja kantor tanpa memiliki mimpi untuk melihat dunia. Sedangkan kamu, yah kamu akan tetap menjadi dirimu seperti yang sekarang ini yang sungguh mencintai perhatian para penggemarmu itu. Tidak akan ada banyak bedanya untuk dirimu yang mengidap penyakit narsistik tingkat akut itu, hehe...

Terima kasih A. Karenamu aku menyadari apa yang ingin aku kejar dalam hidup ini. Karenamu aku telah melewati garis-garis pembatas yang selama ini mengekang langkahku.

Hei A,

Apakah kamu heran membaca surat ini? Setelah sekian lama kita menghilang dari kehidupan masing-masing lalu kamu mendapati suratku ini. Entahlah, aku hanya merasakan sebuah dorongan untuk menulis untukmu. Tapi mungkin kamu sudah bisa menebak mengapa aku menulis surat ini. Kamu cukup mengenalku bukan?

Dear A,

Semua yang memiliki awal pasti memiliki akhir juga. Rasa nyaman itu pada saatnya juga harus mengalah pada realita. Dan kini masa itu tiba. Masa ketika akhirnya kamu mendahuluiku.

Dear A,

Terima kasih pernah hadir dalam hidupku. Memberi warna dan mengajarkan arti baru dalam hidup ini padaku. Aku tidak menangis A, pun tidak tersenyum bahagia untukmu, hehe...

A, semoga rangkaian kalimat ini cukup untuk menggambarkan rasa terima kasihku untuk semua hal yang pernah kita lalui bersama. You're not the best thing in my life, but you've painted new color in my life. Semoga itu cukup untuk menggambarkan arti dirimu dalam hidupku.

Dear A,

Then this is a good bye for us. 
The end of our story. 


PS: Terima kasih, karena sampai waktu itu pun tiba kamu masih berusaha untuk menjaga perasaanku :) 

Jumat, 09 Agustus 2013

Untuk Melihat LukisanMu

Menurut saya setiap orang memiliki momen-momen tertentu yang membuat mereka merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Momen tersebut dapat hadir dalam beragam cara dan bentuk, ada yang menemukannya ketika dia berdoa, ketika menangis dan mencurahkan semua perasaannya dalam gerakan salat, saat membaca kitab suci, saat bersedekah, atau saat membelai lembut rambut anak-anak yatim piatu di panti asuhan sembari menghibur mereka dengan cerita dongeng. Sedangkan saya menemukan momen tersebut ketika melakukan sebuah perjalanan. Ketika menjelajah sebuah tempat asing yang begitu jauh dari rumah sehingga yang terasa hanya ada saya, Tuhan, dan alam yang berbicara dengan bahasanya masing-masing.

Seperti malam ini, ketika saya duduk termangu di salah sofa ruang duduk rumah Feli dan memandang bayang-bayang pemandangan kota kecil dari balik jendela. Secangkir teh yang tak lagi mengepul tergeletak di samping jurnal yang baru selesai ditulis, rekap catatan perjalanan yang dilakukan seharian ini. Feli sudah pamit tidur lebih awal sementara saya masih ingin menutup hari dengan menunggu langit berubah warna menjadi gelap sempurna. Perlahan dingin mulai merayap menembus pertahanan sebuah kabin musim panas yang seharusnya hangat. Bunyi berkelatakan timbul bukan karena langkah kaki di atas lantai kayu, tetapi karena perubahan cuaca dari hangat ke dingin sehingga kayu memuai lalu menyusut. Angin membawa aroma dingin yang bercampur dengan wangi daun, bunga liar, ranting kayu, dan tanah yang tertinggal di ujung hidung. Aroma khas yang menyadarkan bahwa saya sedang berada di salah satu negara yang terletak di ujung utara bumi ini. Sebuah negara yang masuk dalam lingkaran Kutub Utara.

Sofa di ruang duduk rumah Feli

Konon di negara yang masuk dalam lingkaran Kutub Utara matahari dapat terbit selama 24 jam. Midnight sun kebanyakan orang menyebut fenomena tersebut. Dan saya termangu menatap pemandangan di luar jendela untuk mengamati warna langit yang terangnya perlahan meredup, mencoba tidak mengidahkan dingin yang menelusup dari celah-celah kayu, menahan kantuk karena jarum jam telah bergerak melewati angka 10. Matahari memang telah menghilang sama sekali namun saya tetap penasaran ingin melihat sampai kapan terang dapat bertahan sebelum gelap menelan seluruh cahayanya.

Langit malam Oslo di musim panas

'Tuhan, izinkan aku melihat lukisanMu di bumi Skandinavia.' Saya ingat, doa itu yang dahulu terucap ketika saya mulai merancang semua perjalanan gila ini. Dan entah bagaimana caranya semesta tiba-tiba memuluskan jalan saya menuju negara ini. Seakan Tuhan dan semesta berkonspirasi untuk mengabulkan pinta saya dan mengirim saya ke bagian lain dari dunia ini. Dan disinilah saya sekarang, menatap langit dengan mata berat untuk memperkirakan dengan pasti kapan langit benar-benar menggelap kelam. Merasakan langsung kuasaNya dalam mengendalikan semua benda di langit dan bumi sementara kita manusia hanya dapat mengagumi. Dan di titik seperti inilah saya merasa begitu dekat dengan Tuhan sekaligus merasa kecil tak berdaya melihat kehebatanNya.

Untuk melihat lukisanMu, Tuhan. Tanpa sadar saya mendesah pelan mengingat kalimat itu. Lukisan yang saya maksud adalah pemandangan alam khas Norwegia berupa fjord berdinding tebing kasar dengan air terjun hasil lelehan gletser beserta hutan hijau dan kabut yang melingkupi. Pemandangan alam fantastis itu yang membuat saya berangkat sejauh ini dari negara tropis yang hanya mengenal dua musim ke sebuah negara yang bertetangga dengan Kutub Utara. Tapi mimpi saya untuk melihat lukisan itu buyar saat melihat tiket Norway in a Nutshell sudah fully booked bahkan sampai hari kepulangan saya ke Indonesia.


Norway in a Nutshell 

Tuhan, aku sudah sedekat ini untuk melihat lukisanMu. Buatlah sebuah keajaiban agar aku sempat melihat lukisan itu dengan mata kepala sendiri. Untuk melihat kebesaranMu Tuhan. Untuk mengagumi kebesaranMu. Kalimat itu terucap dalam hati seiring dengan padamnya terang di langit kota Oslo. Doa, meminta dengan setulus hati, hanya itu yang mampu saya lakukan ketika seluruh jalan telah ditempuh dan seluruh usaha telah dikerahkan. Dan berharap semoga Tuhan berkenan menciptakan keajaiban lain untuk saya di negara ini.

***

Hari beranjak siang ketika saya terbangun. Feli sudah sibuk menyiapkan sarapan, atau mungkin makan siang, ketika saya menyeret langkah ke dapur. "Morning, kirain gue lo sakit makanya belum bangun." Kemudian dia menghidangkan teh beraroma kayu manis dan apel dengan tambahan susu cair sebagai pengganti gula. Teh favoritnya yang akhirnya menular menjadi teh favorit saya selama menumpang di rumahnya.

"Sorry, gue tidur malem banget semalem," ucap saya sambil tersenyum malu sekaligus merutuki diri sendiri di dalam hati. Udah numpang berani-beraninya bangun telat. Malu-maluin aja!

"Jadi agenda hari ini ngapain aja?" tanya Feli kemudian untuk sekedar memastikan ulang agenda kami di hari tersebut. Kegiatan ini menjadi semacam rutinitas pagi kami sebelum berangkat meninggalkan rumah.

Saya mengingat-ingat sebentar lalu membuka jurnal, "Ke Munch Museet, Holmenkolen, terus malamnya berangkat ke Bergen." Saya tidak dapat menyembunyikan rona wajah kecewa bercampur kebingungan saat menyebut kata Bergen. Seharusnya saya mengikuti tur Norway on a Nutshell di kota itu untuk mengagumi panorama alam khas Norwegia di sepanjang aliran fjord yang membentang. Untuk melihat pulasan warna-warni lukisan Tuhan di Norwegia.

"Tenang aja, lo pasti suka dengan Bergen walau nggak bisa ikutan Norway in a Nutshell. Kotanya cantik kok." Feli yang sepertinya mengetahui kekecewaan saya berusaha menghibur.

Saya tersenyum mengiyakan. Bagaimanapun juga saya harus berangkat ke Bergen. Hanya saja saya tidak yakin harus menulis apa tentang Bergen di buku panduan Skandinavia yang harus saya tulis sepulangnya saya ke Indonesia nanti. Bergen membanggakan dirinya sebagai The Gateway to the Fjords of Norway, di kota inilah tempat yang paling tepat untuk melihat fjord dan panorama menawan Norwegia. Mengarang? Ah bagaimana bisa saya mengarang sesuatu sehebat lukisan Tuhan jika saya tidak pernah melihatnya secara langsung.

***

Jam 6 pagi keesokan harinya kereta NSB yang membawa saya dan Feli dari Oslo sampai di Bergen Railway Station. Feli tidak salah saat mengatakan saya tidak akan menyesali keputusan untuk tetap datang ke Bergen. Pemandangan kereta dari Oslo menuju Bergen (The Bergen Railway) sangat menakjubkan, bahkan rute ini disebut-sebut sebagai salah satu jalur kereta dengan pemandangan tercantik di dunia. Bagaimana tidak, ketika matahari pukul 4 pagi menampakkan dirinya terlihat pemandangan pegunungan kasar yang ditutupi gundukan salju tebal. Seumur hidup baru kali itu saya melihat salju dengan mata sendiri. Pemandangan selanjutnya tidak kalah mencengangkan, danau sebening kristal memantulkan pemandangan di atasnya. Persis seperti cermin. Feli bilang itu bukan danau melainkan fjord. Jantung saya terasa berdebar keras melihat semua keindahan itu dari dalam kereta yang bergerak cepat.


The Bergen Railway 

Percayakah kalian kalau Tuhan bekerja dengan caranya yang misterius? Saya percaya itu. Terkadang saya merasa Tuhan tidak pernah mendengar doa saya, betapa Dia terasa begitu jauh sehingga tidak dapat teraih. Tapi tak jarang juga dia terasa dekat, terasa lebih dekat dibanding urat leher sendiri dan mewujudkan keajaiban-keajaiban yang terasa mustahil. Di pagi yang terasa membeku itu saya duduk melamun sambil mengunyah sandwich yang menjadi menu sarapan. Sementara itu Feli menyeruput teh panasnya sambil mengecek email melalui handphone. Tak berapa lama kemudian dia melonjak-lonjak kegirangan seperti anak kecil, tak dapat berhenti walau beberapa pasang mata di kafe kecil stasiun itu melihat ke arahnya. Saya memandang keheranan, apakah jadwal kepulangan T, suami Feli, dari Amerika dipercepat sehingga dia mendapat serangan kegembiraan seperti ini?

"Yes, yes, yes!!!" Kalimat itu menyertai setiap lonjakan senangnya. "Visit Bergen menyetujui permintaan tiket Norway in a Nutshell kita. Tiketnya bisa langsung diambil hari ini juga di kantor mereka."

Untuk sejenak saya hanya terbengong mencerna kata-kata tersebut. Detik selanjutnya saya sudah ikut melompat-lompat gembira dan menjerit kecil bersama Feli, tak memperdulikan orang-orang yang semakin memandang aneh kepada kami.

Beberapa hari sebelumnya kami memang mengajukan permintaan tiket Norway in a Nutshell pada Visit Bergen saat melihat tiket tersebut sudah fully booked. Dengan menyebutkan bahwa saya akan menerbitkan buku panduan perjalanan dan menulis tentang Bergen di dalamnya serta koneksi yang dimiliki oleh T mereka menyanggupi permintaan tersebut, namun dengan tenggat waktu minimal dua minggu. Entah bagaimana tenggat waktu tersebut tiba-tiba menciut dan disetujui hanya dalam waktu dua hari. Visit Bergen memberi tiket Norway in a Nutshell tepat di jadwal yang telah saya atur sebelumnya. Di hari kedua saya di Bergen, untuk tiket Norway in a Nutshell yang berangkat dari Bergen menuju Oslo (sekalian untuk tiket pulang ke Oslo), dan gratis!!!

Tiket Norway in a Nutshell pemberian Visit Bergen

Terkadang Tuhan menyapa kita di tempat dan waktu yang sama sekali tidak pernah terpikirkan. Seringkali saya menemukan momen tersebut dalam perjalanan, seperti kali ini ketika dia lagi-lagi memberi satu keajaiban kecil dengan mengabulkan permintaan saya. 

Jumat, 19 Juli 2013

PENGUMUMAN HASIL UJIAN PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH TAHUN 2012

Akhirnya hasil ujian pejabat pembuat akta tanah (PPAT) tahun 2012 yang ujiannya dilaksanakan di Jogjakarta pada November 2012 lalu sudah sudah keluar. Setelah penantian panjang akhirnya BPN mengumumkan hasil ujian PPAT pada tanggal 18 Juli 2013 ini. Ini pengumuman lengkapnya:

Berdasarkan Keputusan Ketua Panitia Penyelenggara Ujian Pejabat Pembuat Akta Tanah 2012 Nomor 457/KEP-300.17.3/VII/2013 tanggal 18 Juli 2013, dengan ini diumumkan hasil Ujian Pejabat Pembuat Akta Tanah Tahun 2012 diantaranya sebagai berikut; Peserta ujian yang lulus dan tersedia formasi sesuai dengan pilihan daerah kerja, sebagaimana pada Lampiran I; Peserta ujian yang lulus dan tidak tersedia formasi sesuai dengan pilihan daerah kerja, sebagaimana pada Lampiran II; Formasi pilihan daerah kerja yang masih tersedia sebagaimana pada Lampiran III; Peserta ujian yang lulus dan tidak tersedia formasi sesuai dengan pilihan daerah kerja, apabila dalam waktu 5 (lima) tahun setelah diumumkan hasil ujian PPAT Tahun 2012 tidak memilih formasi yang masih tersedia sebagaimana pada lampiran III, dinyatakan gugur dan harus mengikuti ujian kembali.



  • Pengumuman Hasil Ujian Pejabat Pembuat Akta Tanah Tahun 2012
  • Lampiran I Pengumuman Hasil Ujian Pejabat Pembuat Akta Tanah Tahun 2012
  • Lampiran II Pengumuman Hasil Ujian Pejabat Pembuat Akta Tanah Tahun 2012
  • Lampiran III Pengumuman Hasil Ujian Pejabat Pembuat Akta Tanah Tahun 2012
  • Contoh Formulir A
  • Contoh Formulir B
  • Contoh Formulir C

  • Jumat, 17 Mei 2013

    Rendezvous

    Masih inget sama Tante Theresia? Tante berusia 60 tahun yang mau solo traveling ke Skandinavia!!! Saya sempat ketemu dengan beliau untuk membahas itinerary dan menjawab beberapa pertanyaan yang belum sempat dia tanyakan di email.

    Saya terharu saat Tante Theresia bilang dia tergerak untuk berangkat ke Skandinavia karena buku saya. "Buku kamu jelas banget. Rute bus, turun dimana, naik apa, rekomendasi tempat wisata, penginapan, dan tempat makan semua ada disana. Baca buku kamu rasanya menjelajah Skandinavia seakan mudah. Jadi tante berani untuk berangkat sendiri." Duh, siapa yang nggak melting denger karyanya dapat pujian seperti itu?

    Tante Theresia berangkat ke Skandinavia tanggal 21 Mei ini. Rute yang dia tempuh nantinya di Skandinavia adalah Stockholm - Gothenburg - Oslo - Bergen (persis seperti rute perjalanan saya sebelumnya) ditambah Denmark sebagai penutup. Setelah rute Skandinavia selesai dia akan melanjutkan perjalanannya selama 3 minggu di Belanda.

    Have a wonderful journey on Scandinavia tante. Pleasure to introduce the beauty of Scandinavia to you :)

    Sabtu, 04 Mei 2013

    Di Balik Kopi Darat


    Kalau boleh jujur saya itu tidak pernah pede kalau masuk dalam satu lingkungan baru atau memulai basa-basi dengan seseorang yang asing. Biasanya saya akan menarik diri dan hanya menjadi pengamat sebelum akhirnya bisa berbaur dan beradaptasi. Itu pun kalau saya merasa nyaman dengan lingkungan baru atau orang asing tersebut. Sifat seperti ini menjadi masalah ketika saya harus berhadapan dengan kata 'kopi darat,' satu hal yang acapkali terjadi dalam dunia yang serba maya ini.

    Kecuali saya kenal baik dengan orang yang mengajak kopdar ini, saya lebih memilih untuk menghindari kopdar one on one. Alias kopdar hanya dengan seorang blogger. Bagaimana kalau saya merasa tidak nyaman? Bagaimana jika tiba-tiba saya kehabisan topik pembicaraan? Bagaimana jika acara kopdarnya menjadi garing karena kebanyakan diisi dengan dead air? Duh, ngebayanginnya aja saya udah mules. Jadi jangan heran kalau acara kopdar saya partisipannya pasti dia-lagi-dia-lagi (refer to Mila, Cipu, Exort), atau malah kopdar rame-rame sekalian dengan teman-teman blogger baru *bisa ngumpet kalau kehabisan topik pembicaraan*.

    Sewaktu di Jogja, saya sempat keroyokan kopdar dengan Rio, Fuji, Maya, dan mas Ari. Semalam suntuk kami mengobrol di angkringan ditemani berpiring-piring camilan dan aneka macam minuman yang terus mengalir ke dalam gelas masing-masing. Tidak ada kata bosan. Tawa terus mengalir di malam itu. Tidak ada dead air karena masing-masing berhasrat untuk berbincang. Entah karena kami semua sudah saling mengenal dengan baik di dunia maya, entah karena itu merupakan kopdar keroyokan, yang pasti itu adalah salah satu kopi darat yang paling menyengkan.

    Kopdar Jogja

    Kalau dihitung-dihitung, tidak sedikit blogger yang berdomilisi di Bogor. Bogor sendiri memiliki satu komunitas blogger yang memiliki banyak partisipan. Namun kembali ke sifat awal saya tadi, saya lebih memilih untuk tidak bergabung dalam komunitas tersebut. Saya lebih nyaman untuk menjadi blogger independen dan membuat jaringannya sendiri sesuai dengan passion dan kesukaan saya. Tidak hanya sekedar berkumpul dalam satu komunitas dan dipersatukan atas nama blogger.

    Dan Pagit adalah blogger asal Bogor yang namanya sering saya dengar karena dia berteman baik dengan Mila dan Cipu. Saya dan Pagit tidak sering bertukar sapa di dunia maya, pun kami jarang berkunjung dan meninggalkan komentar di blog satu sama lain. Tapi satu waktu saya iseng meninggalkan komentar di blog Pagit mengajakknya pinjam meminjam koleksi novel. Komentar saya ditanggapi positif dan berlanjut pada tukar-menukar list koleksi novel masing-masing hingga akhirnya kami bertemu di salah satu kedai kopi ternama membawa novel yang akan saling dipinjamkan. Bohong kalau saya tidak nervous menghadapi kopdar one on one ini, namun kekhawatiran saya tidak terjadi. Banyak hal menyenangkan yang saya dan Pagit obrolkan sore itu, mulai dari pekerjaan masing-masing, novel favorit, cerita perjalanan. Di beberapa titik memang sempat terjadi dead air dan terasa canggung, namun tak berapa lama obrolan kembali mengalir.

    Diambil dari blog Pagit ;)

    Kopdar saya lainnya yang tergolong nekat adalah dengan Rhein Fathia. Baik saya dan dia sama sekali tidak mengenal satu sama lain. Saya jarang membaca postingan di blog Rhein begitupun dengan dia. Pertemanan kami terjadi ketika Rhein menerbitkan novel terbarunya di lini Bentang Pustaka dan semesta membelit pertemanan kami karena saya bergabung dengan Mizan dimana beberapa novel Rhein sebelumnya diterbitkan disana. Kami saling bertanya beberapa hal mengenai dua penerbit besar tersebut.Saya bertanya tentang Mizan dan Rhein bertanya tentang Bentang.

    Saya dan Rhein sama-sama berdomisili di kota Bogor. Rasanya konyol jika kami tidak pernah bertatap muka langsung. Maka lagi-lagi, kedai kopi itu yang menjadi tempat pilihan untuk bertemu. Dengan sofa-sofa besar, kopi enak, dan hujan yang terus mengguyur Bogor, ah mengapa yang kopdar dengan saya di suasana seromantis itu adalah blogger perempuan? Dan lagi-lagi saya nervous dengan kopdar kali ini. Saya dan Rhein benar-benar dua orang yang asing. Mau ngobrol apa nanti? Jawabannya adalah enam jam ngobrol non stop dan berpindah ke kedai makan tak jauh dari kedai kopi tersebut. Gosip sesama penulis, seluk beluk dunia penerbitan, hal-hal yang jarang saya dengar dan saya bagi itu membuat waktu berlalu tanpa terasa *sampai lupa foto bareng malah*

    Belajar dari kesuksesan kopdar one on one dengan blogger yang cukup asing ini ternyata semua kekhawatiran saya tidak terbukti *syukurlah*. Secara tidak langsung hal ini meningkatkan rasa percaya diri saya untuk bertatap muka langsung, one on one, dengan teman blogger lainnya.

    Canggung saat pertama bertemu adalah hal yang pasti terjadi, namun setelah beberapa obrolan ringan sebagai ice breaking semuanya akan mengalir lancar. Bertemu dengan teman baru memang selalu menyenangkan. Tidak perlu menjadi seorang yang sempurna di depan seseorang yang sama sekali baru, cukup menjadi diri sendiri apa adanya. Dead air adalah satu hal yang wajar terjadi, tidak perlu cemas. Topik pembicaraan tersedia banyak di luar sana. Kita hanya perlu membuka hati dan pikiran terhadap segala sesuatu hal yang baru, termasuk teman baru.

    Dan perlahan demi perlahan, cangkang selaput tipis yang biasanya otomatis menyelubungi saya sebagai bentuk pertahanan diri dari sebuah lingkungan yang asing, menghilang. 

    Giveaway Free Blog Design and Free Portrait Drawing by Artika Maya

    Hai, udah tau dengan avatar blog Merry go Round kan? Yang bikin adalah Artika Maya. Jeng cantik yang satu ini berbakat banget menggambar dan mendesain. Hasil desain dan gambarnya bisa dilihat di blog ini, dari template blog, header blog, avatar, sampai fave icon semua hasil karya dia.

    Kalau mau pesan langsung ke yang bersangkutan bisa menghubungi dia di email artika_maya@yahoo.com. Silahkan nego harga. Kalau mau yang gratisan bisa ikutan giveaway yang lagi dia buat sampai tanggal 25 Mei 2013 nanti. Infonya bisa dibaca disini: http://artikamaya.blogspot.com/2013/05/join-my-giveaway.html

    Aku posting illustrasion self portrait yang dia bikin untuk aku ya, biar kalian tambah ngiler sama karya-karyanya ;))

    copyright by Artika Maya

    copyright by Artika Maya

    Kamis, 25 April 2013

    SYARAT PENGANGKATAN NOTARIS


    Setelah pelatihan SABH yang dilaksanakan serentak di luar Jawa dan Jakarta tanggal 18 April 2013 dan untuk Jawa tanggal 22 April 2013, sesuai informasi dari Pejabat Hukum dan Hak Asasi Manusia pada saat pelatihan SABH tersebut, untuk diangkat menjadi Notaris syaratnya adalah sesuai Peraturan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor: M.01.Ht.03.01 Tahun 2006 Tentang Syarat Dan Tata Cara Pengangkatan, Perpindahan, Dan Pemberhentian Notaris.



    Syarat untuk diangkat notaris adalah sebagai berikut:



    (1)    Syarat untuk dapat diangkat menjadi Notaris adalah:

    a.    Warga negara Indonesia;

    b.    Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;

    c.    Setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

    d.  Sehat jasmani yang dibuktikan dengan surat keterangan sehat dari dokter rumah sakit pemerintah atau rumah sakit swasta;

    e.   Sehat rohani/jiwa yang dibuktikan dengan surat keterangan sehat dari psikiater rumah sakit pemerintah atau rumah sakit swasta;

    f.   Berijazah sarjana hukum dan lulusan jenjang strata dua kenotariatan atau berijazah sarjana hukum dan lulusan pendidikan SpesiaIis Notariat yang belum diangkat sebagai Notaris pada saat Undang-Undang Jabatan Notaris mulai berlaku;

    g.    Berumur paling rendah 27 (dua puluh tujuh) tahun;

    h.  Telah mengikuti pelatihan teknis calon Notaris yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia bekerjasama dengan pihak lain;

    i.    Telah menjalani magang atau telah nyata-nyata bekerja sebagai karyawan Notaris dalam waktu 12 (dua belas) bulan berturut-turut pada kantor Notaris yang dipilih atas prakarsa sendiri atau yang ditunjuk atas rekomendasi Organisasi Notaris setelah lulus pendidikan sebagaimana dimaksud pada huruf f;

    j.  Tidak pernah terlibat dalam tindak kriminal yang dinyatakan dengan surat keterangan dari Kepolisian Negara Republik Indonesia;

    k.   Mengajukan permohonan pengangkatan menjadi Notaris secara tertulis kepada Menteri;

    l.   Tidak berstatus sebagai pegawai negeri, pejabat negara, advokat, pemimpin atau pegawai Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, Badan Usaha Milik Swasta, atau sedang memangku jabatan lain yang oleh peraturan perundang-undangan dilarang untuk dirangkap dengan jabatan Notaris.


    (2)  Permohonan pengangkatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf k diajukan dengan melampirkan dokumen sebagai berikut:

    a.   Fotokopi kartu tanda penduduk yang disahkan oleh instansi yang mengeluarkan atau oleh Notaris;

    b.   Fotokopi buku nikah akta perkawinan yang disahkan oleh instansi yang mengeluarkan atau oleh Notaris bagi yang sudah menikah;

    c.   Fotokopi ijazah pendidikan sarjana hukum dan pendidikan Spesialis Notariat atau fotokopi ijazah pendidikan sarjana hukum dan pendidikan magister kenotariatan yang disahkan oleh perguruan tinggi yang mengeluarkan;

    d.  Fotokopi sertifikat pelatihan teknis calon Notaris yang disahkan oleh Direktur Perdata Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum;

    e.   Fotokopi akta kelahiran surat kenai lahir yang disahkan oleh instansi yang mengeluarkan atau oleh Notaris;

    f.    Fotokopi sertifikat kode etik yang diselenggarakan oleh Organisasi Notaris yang disahkan oleh Notaris;

    g.    Fotokopi surat keterangan telah magang atau telah nyata-nyata bekerja sebagai karyawan di kantor Notaris selama 12 (dua belas) bulan berturut-turut setelah lulus pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f;

    h.    Asli surat keterangan catatan kepolisian setempat;

    i.   Asli surat keterangan sehat jasmani dari dokter rumah sakit pemerintah atau rumah sakit swasta;

    j.    Asli surat keterangan sehat rohani/jiwa dari psikater rumah sakit pemerintah atau rumah sakit swasta;

    k.     Asli surat pernyataan bermeterai cukup yang menyatakan bahwa pemohon tidak berstatus sebagai pegawai negeri, pejabat negara, advokat, pemimpin atau pegawai Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, Badan Usaha Milik Swasta, atau sedang memangku jabatan lain yang oleh peraturan perundang-undangan dilarang untuk dirangkap dengan jabatan Notaris;

    I.   Asli surat pernyataan bermeterai cukup yang menyatakan bahwa pemohon bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Republik Indonesia;

    m.  Asli surat pernyataan bermeterai cukup yang menyatakan bahwa pemohon bersedia menjadi pemegang protokol notaris lain, baik karena pindah, pensiun, meninggal dunia, menjabat sebagai pejabat negara, mengundurkan diri, atau diberhentikan sementara;

    n.    Pasfoto terbaru berwarna ukuran 3 x 4 sebanyak 4 (empat) lembar;

    o.   Asli daftar riwayat hidup yang dibuat oleh pemohon dengan menggunakan formulir yang disediakan oleh Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia;

    p.   Alamat surat menyurat, nomor telepon/telepon seluler/faksimili pemohon dan e-mail (jika ada); dan

    q.    Prangko pos yang nilainya sesuai dengan biaya prangko pos pengiriman.


    untuk informasi syarat pengangkatan notaris terbaru bisa dibaca disini